top of page

SEARCH BY TAGS: 

RECENT POSTS: 

FOLLOW ME:

  • Facebook Clean Grey
  • Twitter Clean Grey
  • Instagram Clean Grey

Deoksugung Palace: Ketika Tradisi Bertemu Budaya Barat

  • Feb 16, 2017
  • 3 min read

Deoksugung Palace. Foto: dok. Seoul Convention Bureau

Cara terbaik untuk mengenal sebuah kota baru adalah dengan menyambangi titik bersejarah yang ada di dalamnya. Inilah alasan saya mengunjungi Deoksugung Palace, saat berada di Seoul, Korea Selatan, beberapa waktu lalu. Anda tentu bertanya kenapa harus Deoksugung ketika Gyeongbokgung jauh lebih populer?

Tidak ada alasan khusus kenapa memilih Deoksugung, selain karena jaraknya hanya sekitar 150 meter atau 5 menit berjalan kaki dari President Hotel, tempat saya menginap. Perjalanan menuju istana itu membawa saya melewati Balai Kota Seoul yang memiliki rupa futuristik serta wajah klasik Seoul Metropolitan Library.

Pintu masuk utama Istana Deoksugung adalah Gerbang Daehanmun di mana wisatawan bisa membeli tiket masuk senilai KRW1.000 atau setara Rp11.300. Dalam bahasa setempat, deoksugung bermakna istana yang dipenuhi budi pekerti dan berumur panjang. Ia merupakan satu dari lima grand palace peninggalan Dinasti Jeseon, kerajaan terakhir Korea Selatan yang berkuasa hingga tahun 1910. Empat istana lainnya adalah Gyeongbokgung, Changdeokgung, Changgyeonggung, dan Gyeonghuigung.

Deoksugung Palace. Foto: dok. Seoul Convention Bureau

Merunut sejarah, istana ini awalnya kediaman resmi Pangeran Wolsan, kakak tertua Raja Seonjo yang memerintah Korea Selatan pada periode 1469-1494. Kala itu, ukuran istana ini masih sangat kecil namun strategis, karena berdekatan dengan beberapa kedutaan besar. Pada 1592, Jepang menghancurkan Deoksugung dan Gyeongbokgung, yang kala itu merupakan istana utama Kerajaan Joseon.

Dua tahun kemudian pasca-dihancurkan, Raja Gwanghaegun yang memerintah Korea kala itu, memerintahkan pembangunan kembali Deoksugung, sementara Gyeongbokgung dibiarkan terlantar hampir 273 tahun. Ketika renovasi Deoksugung rampung pada 1611, Raja Gwanghaegun menamainya Gyeongungung.

Gerbang masuk Junghwajeon Hall. Foto: dok. Seoul Convention Bureau

Sempat Terbakar

Menyusuri Deoksugung Palace dapat dimulai dari Gerbang Daehanmun yang akan mengarahkan Anda melewati Jembatan Geumcheongyo menuju Junghwajeon Hall. Ia merupakan bangunan utama di Istana Deoksugung yang dibangun sekitar tahun 1902.

Pada 14 April 1904, sekira pukul 21.30 waktu setempat, kebakaran besar melanda istana dan menghanguskan Junghwajeon Hall beserta tembok yang mengelilinginya. Richard Wunsch, dokter pribadi Raja Gojong yang berasal dari Jerman, menggambarkan peristiwa itu dalam buku hariannya. “Tadi malam, suasana (istana) sangat meresahkan. Api melalap habis istana yang terbuat dari kayu. Dalam sekejap mata, Istana menjadi lautan api.”

Sehari pasca-kebakaran, Raja Gojong memerintahkan pejabat terkait untuk menyelidiki penyebab kebakaran. Sayang, penyelidikan itu tidak menemukan fakta apapun terkait penyebab kebakaran. Pada 1906, Raja Gojong memulai pembangunan kembali Junghwajeon Hall yang membuat urusan administrasi istana dipindahkan ke Jungmyeongjeon.

Rupa Junghwajeon Hall saat ini pascarestorasi. Foto: dok. Seoul Convention Bureau

Jungmyeongjeon merupakan gedung berlantai tiga dengan arsitektur Eropa yang berada di pinggiran kompleks istana. Tak jauh dari Junghwajeon Hall. Sayang, renovasi tidak mampu mengembalikan masa jaya Deoksugung. Junghwajeon yang awalnya berlantai dua direkonstruksi hanya dengan satu lantai.

Meski begitu, Junghwajeon Hall belum kehilangan pesonanya. Untuk bisa menikmati bangunan yang dahulu kerap menjadi venue kenegaraan itu, saya harus melewati gerbang raksasa setinggi lebih dari 10 meter berwarna merah pudar. Dari sini, halaman luas bermaterial paving block membawa saya menuju anak tangga ke bangunan utama di mana terdapat dua patung naga yang mengapit panel batu berukiran dua naga.

Di dalam Junghwajeon Hall terdapat tahta raja berlatarkan Irwoloakdo, lukisan yang terdiri dari matahari, bulan, dan lima gunung. Lukisan itu melambangkan harapan rakyat Korea agar pemimpinnya selalu hidup sejahtera. Sedangkan pada langit-langit bangunan terdapat ukiran dua naga berwarna emas yang melambangkan otoritas penuh raja atas pemerintahan.

Foto: dok. Seoul Convention Bureau

Citarasa tradisional pada Junghwajeon Hall akan terasa bertolak belakang ketika Anda menyambangi Seokjojeon Hall yang berjarak 50 meter dari Junghwajeon Hall. Dirancang oleh John Reginald Harding, arsitek asal Inggris, seokjojeon yang bermakna rumah batu tersebut mengusung gaya arsitektur neo-klasik abad 19. Ciri khasnya terletak pada penggunaan pilar raksasa dan atap segitiga.

Sementara Keberadaan taman dan air mancur yang berada di depan Seokjojeon, menurut Kim, penjaga Istana Deoksugung, baru dibangun sekitar tahun 1938. “Pada masa itu, Seokjojeon Hall digunakan sebagai balairung dan kediaman para raja. Gedung ini pernah menjadi kediaman Raja Gojong dan Raja Yeongchin, putera ketujuh Raja Gojong,” katanya.

Kim menambahkan, ketika Raja Gojong meninggal dan Korea Selatan berada di bawah pengaruh Jepang (1910-1945), luas istana yang awalnya meliputi Seoul Plaza dan Balai Kota, dipangkas hingga menyisakan sepertiga ukuran aslinya. Istana Deoksugung kemudian berubah fungsi menjadi taman dan dibuka Jepang untuk umum pada 1 Oktober 1933.

Info!

  • Apabila ingin sensasi berbeda saat mengunjungi Deoksugung Palace, cobalah menyaksikan upacara pergantian penjaga istana. Upacara yang selalu dilakukan di Gerbang Daehanmun itu, biasanya digelar setiap pukul 11.00, 14.00, dan 15.30 KST.

  • Mengunjungi Seokjojoen Hall yang kini beralihfungsi menjadi tempat pameran dan museum adalah kegiatan menarik yang bisa dilakukan selama berada di Deoksugung Palace. Apabila tertarik melihat isi museum, Anda bisa melakukan pemesanan daring melalui www.deoksugung.go.kr, atau mendaftar 45 menit sebelum tur dimulai. Perlu dicatat, tur dimulai pukul 09.30 KST dan satu kali tur membutuhkan waktu 45 menit. Sedangkan peserta yang diperbolehkan dalam satu kali tur hanya lima orang.

  • Apabila Anda memiliki waktu lebih, mengunjungi empat istana lainnya sangat layak dicoba. Pasalnya, sejak 1 Mei 2010, wisatawan dapat membeli tiket terusan seharga KRW10.000 dan bisa digunakan sebulan setelah pembelian.

 
 
 

Comments


© 2023 by Closet Confidential. Proudly created with Wix.com

bottom of page