Pesona Batik Semarangan
- Mar 26, 2015
- 3 min read

LOKASINYA sedikit tersembunyi. Menyatu di antara deretan rumah penduduk, melewati gang-gang sempit dengan selokan pendek dipenuhi sampah. Beberapa warga tampak sibuk membenahi rumah, menjemur kasur basah yang mengeluarkan aroma apek.
Sedikit sulit menemukan Kampung Batik Semarang. Tidak ada petunjuk arah, baleho, ataupun plang yang memandu. Sehingga, bertanya kepada warga menjadi solusi tertepat. Kampung Batik Semarangan terletak di kawasan Bubakan Semarang, di antara padatnya permukiman warga. Kegiatan membatik dipusatkan di Balai Batik Semarang yang merupakan rumah sederhana bercat oranye menyala dengan atap limas khas Jawa.

Di teras rumah tampak seorang lelaki paruh baya tengah menjemur batik. Sedang di dalam rumah, seorang perempuan muda tampak hanyut dengan kegiatannya membatik sehelai kain biru sepanjang 2,5 meter. “Masuk Mbak e. Mau lihat batik ya? Tapi maaf, masih berantakan. Abis kena banjir,” kata lelaki itu. Kondisi Semarang yang selalu diterjang rob, membuat kawasan Bubakan menjadi langganan banjir.
Dia lantas merapikan beberapa kursi kayu yang ditumpuk tak beraturan di atas meja dengan genangan air di sejumlah titik. Di sudut ruang, tampak batik-batik semarangan berwarna mencolok ditata rapi di rak display.
Nama lelaki itu, Tri Utomo. Dia adalah Ketua Komunitas Paguyuban Kampung Batik Semarang. Menurut dia, kini hanya sekitar 30 perajin yang bertahan di Kampung Batik Semarang. Hal itu karena pada 1980, sentra batik dipindahkan pemerintah setempat ke Desa Cangkiran, Kecamatan Mijen dengan tujuan membangkitkan geliat usaha batik rumahan.
Sayang, usaha itu tak berjalan mulus, terbukti dengan meredupnya industri batik di Cangkiran. “Padahal, dulu saat zaman Belanda, kampung ini merupakan sentra penghasil batik terbesar di Semarang,” tutur Tri.
Dalam sebuah berita Belanda atau Koloniaal Verslag terbitan 1919 dan 1925, disebutkan industri batik Semarang kala itu mencapai 107 buah dengan 800 perajin. Batik yang dihasilkan kala itu pun menjadi primadona di Belanda.
Bukti autentik keberadaan Kampung Batik Semarang lainnya tercatat di Serat Kadhaning Ringgit Purwa naskah KGB Nr 7, yang menyatakan pada abad ke-15 Bubakan merupakan kediaman Ki Ageng Pandan Arang atau Pandanaran I. Ia merupakan bupati pertama di Semarang sekaligus pejabat kerajaan yang diangkat langsung oleh Sultan Demak Bintara. Di bawah pemerintahan Pandanaran I, kawasan Bubakan tumbuh menjadi sentra penghasil batik.
Dalam sebuah buku berjudul Textiles of Southeast Asia: Tradition, Trade, and Transformation, Robyn Maxwell yang merupakan peneliti tekstil di Asia Tenggara menemukan selembar batik semarangan di Tropenmuseum Amsterdam.
Dalam bukunya, Maxwell menyebutkan batik berbahan katun itu berukuran 106,5 x 110 sentimeter dan dibuat di Semarang sekitar abad ke-19. Kain itu bermotif serdadu yang tengah mengusung panji, diiringi pemain musik dan bangsawan berkereta kuda. Diduga, motif itu melukiskan perayaan Garebeg di Keraton Yogyakarta.

Menurut Tri, pada dasarnya identitas batik semarangan terletak pada warna mencolok dengan pola floral, serupa motif laseman batik pesisir khas Cirebon, Tuban, dan Indramayu. Perkembangan batik semarangan juga tidak lepas dari dua orang perempuan Eropa yang menorehkan karyanya di Semarang. Mereka adalah Ossterom dan Carolina Josephina von Franquemont.
Karya Ossterom berupa sarung batik berhiaskan motif kastil, pohon palem, orang berdansa, daun, burung phoenix, dan penunggang kuda. Kini, sarung itu menjadi salah satu koleksi berharga Museum Batik Kuno Danar Hadi, Solo, Jawa Tengah. Sedang Franquemont membuat sarung batik dengan motif ombak, air, ikan, kerang, kura-kura, dan kapal layar.
Pada awal abad ke-20, keberadaan batik semarangan banyak dipengaruhi budaya China di mana Batikkerij Tan Kong Tien merupakan produsen batik ternama kala itu. Tan Kong Tien mendapatkan kemampuan membatik dari sang istri Raden Ayu Dinartiningsih yang merupakan keturunan Sultan Hamengku Buwana III dari Yogyakarta.
Batik Tan Kong Tien merupakan perkawinan motif pesisir dan keraton. Hal itu dapat dilihat dari aplikasi motif batik keraton dengan pola burung merak. Tri Utomo mengakui, motif batiksemarangan banyak dipengaruhi budaya Tionghoa yang kerap bermain dengan motif fauna, seperti merak, kupu-kupu, cendrawasih, dan phoenix.
Pada 1940’an, industri batik semarangan mati suri akibat Jepang membakar habis kampung batik. Tri mengatakan, tak mudah untuk membangkitkan kembali industri yang telah ditinggalkan puluhan tahun silam. “Kendalanya pada pemasaran, karena sulit bersaing dengan batik Pekalongan dan batik Yogyakarta,” kata Tri.
Namun, dirinya optimistis motif unik dan warna cerah yang dimiliki batik semarangan dapat berkembang ke depannya. Untuk menarik perhatian konsumen, Tri bersama 30 perajin batik lainnya mengaplikasikan motif khas Semarang, seperti Tugu Muda, Lawang Sewu, dan Gereja Blenduk.
“Kami tidak tertutup pada inovasi, karena kami juga harus mengikuti perkembangan zaman. Salah satunya menghadirkan batik motif kartun untuk anak. Namun kami sadari, bahwa inovasi tidak boleh meninggalkan identitas batik sesungguhnya,” tuturnya.
Should Try!
Di Kampung Batik Semarang, pengunjung bisa belajar membatik dengan biaya kursus sebesarRp 20 ribu per orang.
KAMPUNG BATIK SEMARANGAN
Jalan Batik, Semarang
Jawa Tengah



Comments